Alkisah

by Senyawa

/
  • Streaming + Download

    Includes unlimited streaming via the free Bandcamp app, plus high-quality download in MP3, FLAC and more.
    Purchasable with gift card

      $8 USD

     

  • Full Digital Discography

    Get all 58 KATUKTU COLLECTIVE releases available on Bandcamp and save 75%.

    Includes unlimited streaming via the free Bandcamp app, plus high-quality downloads of Eastern Red Coast, Scene IV, So many little rooms, Dissolution, Vermilion, Scene III, Alkisah, Mike Law on the Spiral Stairs, and 50 more. , and , .

    Purchasable with gift card

      $44.62 USD or more (75% OFF)

     

  • Cassette (KC-057)
    Cassette + Digital Album

    Limited US run of 50 hand-numbered copies on silver shells with silver labels in maltese cross cases.

    Includes unlimited streaming of Alkisah via the free Bandcamp app, plus high-quality download in MP3, FLAC and more.

    Sold Out

1.
Kekuasaan 00:40
Apa arti kuasa bila akhir sudah di ujung mata?
2.
Alkisah I 09:07
Alkisah suatu negeri Porak-poranda dilanda api Terguncang-guncang ia oleh tanah tempatnya berdiri Tanahnya subur tapi hangus Pohonnya banyak tapi tandus Airnya mengalir hulu ke hilir Yang haus pun banyak, tak habis pikir Kiri kanan selatan utara Semua bilang, “negeri itu alangkah kayanya!” “Alangkah sayangnya!” Alkisah suatu negeri Tercerai berai dimangsa dengki Tergonjang-ganjing ia oleh congkak, tamaknya sendiri Rajanya hilang entah kemana Rakyatnya bimbang hilang percaya Oh, saling ribut saling berebut Saling sikut tak ada takut Satu salah satu marah Satu kalah satu berulah “woy, macam betul semua kalian tu. Sudah, sudahah!” “Alangkah sayangnya!”
3.
Menuju Muara 03:07
Bergegaslah menuju muara Tanah basah yang kaya udara Meski selamat pada akhirnya Selain kita akan musnah tak berdaya Menjadi debu, arang, hanyut, terlupakan Menjadi legenda yang lambat laun juga akan punah, hilang terkubur zaman Bergegaslah menuju muara Tanah basah yang kaya udara Di sanalah kita beristirahat Membesarkan anak-anak muda Merawat pahlawan yang terluka Menjaga mata air, menanam akar Menggali parit, menjaring garam Menggambar sejarah, melagukan kehilangan Menyucikan sumpah, memberkati ampunan Bergegaslah menuju muara
4.
Istana 06:58
Mereka bersembunyi begitu jauh setinggi awan Kokoh terbentengi Di sekelilingnya pagar-pagar bertebaran, kepala-kepala manusia-manusia tak bersalah Berserakan nama-nama pejuang Pejuang-pejuang yang dilupakan Di tengah-tengahnya kolam hitam Pekat akan sisa-sisa bangkai perang dan pertikaian Berceceran bekas darah Darah-darah manusia tak bernama Berguguran harapan-harapan Masa depan yang terarah
5.
Kabau 05:43
Anak nelayan mambaok cangkua Mananam ubi di tanah darek Baban sakoyan dapek dipikua Budi saketek taraso barek Anak ikan dimakan ikan Gadang ditabek anak tenggiri Ameh bukan perak pun bukan Budi saketek rang haragoi Anjalai tumbuah di munggu Sugi-sugi di rumpun padi Supayo pandai rajin baguru Supayo tinggi naikkan budi Alu tataruang patah tigo Samuik tapijak indak mati Tarandam-randam indak basah Tarapuang-apuang indak hanyuik Anyuik labu dek manyauak Hilang kabau dek kubalo Anguak anggak geleng amuah Unjuak nan tidak babarikan
6.
Fasih 03:57
Fasih berteriak: “fasis yang baik adalah fasis yang mati” Tapi menghujat apa-apa yang berbeda paham dari yang kau ikuti Fasih berteriak: “fasis yang baik adalah fasis yang mati” Tapi memaksa apa-apa harus patuhi satu kebenaran yakni yang kau yakini Fasih berteriak: “fasis yang baik adalah fasis yang mati” Tapi membungkam, memaki apapun gagasan yang tak sanggup kau mengerti Fasih berteriak: “fasis yang baik adalah fasis yang mati” Tapi apa-apa harus anut satu arti Fasih berteriak: “fasis yang baik adalah fasis yang mati” Tapi apa-apa harus dibatasi termasuk imajinasi Fasih berteriak: “fasis yang baik adalah fasis yang mati” Tapi meremehkan mereka yang berani memilih cara, jalan sendiri Fasih tak menjadikanmu tak fasis Fasih tak menjadikanmu tak layak ma
7.
Alkisah II 06:35
Alkisah suatu negeri Berbagi dunia dengan kita kini Satu sama lain menyahut “saudaraku” Satu sama lain menyebut “dosamu, masa lalu” Tanah kering menjadi hijau merdu Berpupuk kasih dan sabar akan waktu Menjelma duka dan amarah menjadi petuah Menulari mereka yang terjangkit luka yang sama Orang-orang tua dilindungi Ilmu, riwayat, dan segala warisannya Anak-anak muda diberkati Nurani, badan, akal, segala tindakannya Menghormati hujan dan matahari Memberi arti tiap nyawa tanpa kecuali Alkisah, seindah itu suatu negeri Berbeda meski berbagi dunia dengan kita kini Meski negeri itu sudah tak ada lagi Dibantai tamak dibakar benci Terusir hina dari tanahnya sendiri Oleh segala kerendahan hati Yang ditafsirkan berarti kelemahan diri Karena meremehkan mereka Yang tak peduli akan hujan dan matahari
8.
Kiamat 01:21
“Kiamat sudah dekat!”
9.
10.
11.

about

alkisah.net | alkisah.net | alkisah.net

"It’s difficult to characterise Senyawa without leaning on inaccurate tropes or multihyphenates. From Indonesian gamelan to apocalyptic folk, post-punk, no wave, stoner metal and dark-doom-psychedelic-ritualcore, the Javanese duo’s output encapsulates such wide swathes of influences so as to be nearly impossible to summarise.

Their unprecedented style derives in large part from their unconventional instrumentation. Over the course of ten years and about as many releases Rully Shabara and Wukir Suryadi have honed a semi-improvisational sound forged from the percussive clattering and ceremonial mood of their homemade bambuwukir. The device, the size and shape of a tube zither, is sheathed in rows of metal and bamboo strings that emit a remarkable range of otherworldly tonalities and textures. On their newest album Alkisah it’s joined by another of Suryadi’s homemade creations built from a spatula and an electric guitar. Their combined effect is more industrially angular than the band’s past work, eliciting a symphony of pulverising riffs and guttural roars that sounds as if they’ve hatched straight from the fires and slimes of Middle Earth.

Alkisah’s feral march is the backdrop to a tale of impending destruction. The album, whose title loosely translates to Once Upon A Time, tells the dystopic fable of a formerly rich and powerful country approaching its dissolution. The story starts as the government crumbles. In “Menuju Muara”, or “Towards the Estuary”, the society disbands to create a new civilisation from the ground up. Pitch-shifting harmonics and gauzy, reverb-drenched background vocals sweep and stutter, punctuated by repeating power chords and a cacophony of metallic recordings. The loose rhythmic jam is reminiscent of early Einstürzende Neubauten before it evolves into a sludge metal dirge.

By “Kabau” an echoing chorus of screams and wails merge into a singular vocal line. The new world order, which has collapsed into yet another bloody insurrection, looks to the traditional wisdom of these chanted Minang proverbs that bring the album to a haunting close. It seems, for all their novelty, as though Senyawa speak to something more ancient in these images – the timeworn threat of empire building and supremacy’s inevitable fall."

- The Wire

credits

released February 21, 2021

Wukir Suryadi: custom instruments 

Rully Shabara: lyrics, vocals

Recorded and mixed by Iwan Karak 
at Eloprogo, September 2020

Soundscape of Eloprogo 
recorded by Tesaran 

Minang proverbs on “Kabau” 
compiled by Taufik Adam

Mastered by Cordey Lopez

Remixes mastered by Aidan Baker
Artwork by Sopeng
Layout by Aaris King

This is KC-057
Thank you

CD available from Burning Ambulance at senyawa-bam.bandcamp.com/album/alkisah

All labels and remixers involved can be browsed at alkisah.net


Decentralization should be the future

license

all rights reserved

tags

about

KATUKTU COLLECTIVE California

Aural refuge since 2015

contact / help

Contact KATUKTU COLLECTIVE

Streaming and
Download help

Shipping and returns

Redeem code

Report this album or account

KATUKTU COLLECTIVE recommends:

If you like Alkisah, you may also like: